Agenda

25 Jan

Pelantikan Pejabat Eselon IV (Kasubbag AKA)

Pelantikan Pejabat Eselon IV (Kepala Sub Bagian Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni) akan dilaksanakan pada hari ini pukul 09.30... Baca Selengkapnya

01 Okt

Sosialisasi Implementasi Penginputan e-PUPNS Tahun 2015

Nama Kegiatan: Sosialisasi Implementasi Penginputan e-PUPNS Tahun 2015.Peserta Kegiatan: Seluruh PNS &CPNS di lingkungan STAIN Syaikh... Baca Selengkapnya

27 Jul

Pengumuman Kelulusan UM-PTKIN 2015

Pada tanggal 24-25 Juli 2015 telah dilaksanakan sidang kelulusan untuk menentukan peserta yang dinyatakan lulus dan hasilnya akan diumumkan pada hari... Baca Selengkapnya

BERITA

IAIN SAS Babel Gelar Kegiatan Iptama'in Sambut Pergantian Tahun

Diposting oleh Administrator | Jumat, 04 Januari 2019 - 15:40:38 WIB

Bangka,4/1/2019. IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung menggelar kegiatan religius Iptama'in (Itikaf Pergantian Tahun Ala Mahasiswa IAIN) di musholla kampus dalam menyambut pergantian tahun baru masehi.Kegiatan yang dilaksanakan pada 31 Desember 2018 sampai dengan 1 Januari 2019 ini memiliki agenda Khataman Al-Qur'an, sholat berjamaah, tahajud, tausiyah, dan diskusi terbuka," kata Dosen IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Babel, Ichsan Habibi,MA.Hum. Ia mengatakan, pergantian tahun baru Masehi telah menjadi momentum akbar yang dinanti oleh jutaan manusia di berbagai belahan dunia. Manusia dari berbagai bangsa dan negara menganggapnya sakral sehingga dilakukan perayaan khusus untuk menyambutnya, misalnya mengadakan pesta kembang api dan pentas hiburan. Namun berbeda dengan yang dilakukan oleh sejumlah mahasiswa IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung yang menyikapinya dengan sederhana dan bernilai religius," katanya.

Menurut dia, para mahasiswa mengadakan kegiatan Iptama'i didasari pada keprihatinan mereka atas kondisi banyaknya mahasiswa muslim yang melibatkan diri dan terlena dalam perayaan pergantian tahun masehi secara berlebihan. Selain berpesta hura-hura dan begadang, keasyikan tersebut bahkan membuat mereka lalai akan hakikat kewajiban seorang muslim untuk berdzikir dan beribadah," katanya. Kegiatan sederhana ini juga dimaksudkan sebagai langkah kecil untuk mengajak mahasiswa IAIN SAS Babel untuk menanamkan kebiasaan positif dan mengurangi kebiasaan negatif dalam merayakan pergantian tahun.

Kegiatan yang diikuti 25 mahasiswa itu juga diisi tausiyah dan diskusi oleh Ichsan Habibi dengan tema ”Menjadi Manusia Yang Tahu Diri”.Ia mengatakan tema ini diangkat karena merebaknya fenomena ketidaktahudirian yang memiliki tujuh unsur diantaranya Pertama, ketidaktahudirian berakar pada ketidaktahuan (Unwissenheit). Orang yang tak sadar kemampuan, lalu berlagak untuk mengambil peran besar, akan menjadi orang yang tak tahu diri.Kedua, ketidaktahudirian berakar pada miskinnya pengalaman. Ketiga, orang tidak tahu diri melaju pesat karirnya, karena ia pandai menjilat. Keutamaan tertingginya adalah kecerdikan merayu pada penguasa.Kemudian Keempat, orang tak tahu diri juga suka dijilat. Mereka memilih rekan kerja tidak berdasarkan pada kemampuan maupun integritas, melainkan dari seberapa lezat jilatan yang diberikan. Kelima, orang tak tahu diri adalah orang yang takabur. Keenam, selain takabur, ketidaktahudirian selalu bergandengan dengan kerakusan karena tak kenal dirinya sendiri, rasa hampa selalu datang menghantui."Ketujuh, ketika diberikan kedudukan, orang-orang yang tidak tahu diri akan langsung menyalahgunakannya," katanya.

Maka dari itu, dua hal kiranya diperlukan, guna mencegah menyebarnya virus ketidaktahudirian. Pertama, unsur pendidikan yang bermutu amatlah penting di sini.Kedua, para pemimpin harus berperan aktif di dalam memberi teladan yang baik bagi masyarakat luas. Dalam hal ini juga disampaikan juga tentang pembagian pemikiran. Pertama pemikiran yang bagusmembicarakan ide-ide, Kedua pemikiran yang tengah (Biasa) yakni membicarakan kejadian-kejadian dan yang Ketiga, pemikiran yang kecil (Dangkal)membicarakan orang lain."Hal ini disampaikan agar mahasiswa mengerti dan memahami apa substansi dari seorang mahasiswa," katanya. Dalam kaitannya dengan dunia kampus, maka kampus dituntut untuk berupaya menciptakan para sarjana yang tahu diri, yakni memahami hakikat distingsi IAIN SAS Babel yang terdiri dari Religiusitas, Intelektualitas, dan Berkearifan Lokal. Religiusitas berarti bahwa IAIN SAS Babel mampu menciptakan atmosfer religius dan mampu menghasilkan para sarjana yang mumpuni di bidang keagamaan Islam sehingga nantinya dapat diharapkan menjadi layaknya Sang Kiyai (tokoh pendiri NU). Intelektualitas berarti bahwa Kampus diharapkan mampu menciptakan atmosfer akademik dan mampu menghasilkan para sarjana yang menjadi Pencerah (tokoh pendiri Muhammadiyah) dalam kehidupan akademik dan sosial. Adapun berkearifan lokal dimaksudkan agar Kampus dan para lulusan IAIN SAS Babel bisa menjadi penjaga tradisi dan budaya lokal sebagai unsur utama pembangunan peradaban masyarakat luas layaknya Sufi Pembangunan.

Sementara itu Ketua pelaksana kegiatan, Supri berharap acara sederhana ini bisa memberikan efek positif untuk para pemuda-pemudi dalam memaknai pergantian tahun Masehi secara tidak berlebihan dan pesta kembang api yang malah membuat mubazir."Saya sangat senang terlibat dengan kegiatan seperti ini, selain bisa mengantisipasi hal-hal yang tak diinginkan atau yang tidak bermanfaat, kegiatannya juga menambah wawasan dan pengalaman dengan adanya pencerahan dari tausiyah dan diskusi," katanya.(https://babel.antaranews.com)